PKSWatch Watch

Berangkat dari kekhawatiran akan masa depan Partai Keadilan Sejahtera yang kini banyak menjadi sorotan, keseimbangan dan kejernihan permasalahan coba disajikan. Isi blog ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak berhubungan sedikitpun dengan sikap resmi partai.

Thursday, December 08, 2005

PKS dan Piagam Madinah

Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokatuh

Segera setelah Rasululloh Muhammad SAW tiba di Madinah pada tahun 622, beliau membuat perjanjian antara orang-orang Muhajirin (orang Islam Mekkah yang ikut hijrah bersama Nabi), Anshor (penduduk Muslim di Madinah), dan orang-orang Yahudi. Perjanjian inilah yang kemudian disebut dengan Konstitusi atau Piagam Madinah.

Piagam Madinah sering dianggap sebagai dasar dari pembentukan negara Islam pertama di Madinah. Dan Nabi Muhammad dipercayai sebagai peletak dasar negara itu. Isi perjanjian ini, di antaranya, bahwa seluruh penduduk Madinah, apa pun agama dan sukunya, adalah ummah wahidah (a single community) atau umat yang tunggal. Karena itu, mereka semua harus saling membantu dan melindungi, serta mereka semua berhak menjalankan agama yang dipeluknya masing-masing.

Nilai-nilai universal yang dikandung oleh Piagam Madinah inilah yang, di antaranya, menjadi tema perjuangan dan referensi politik Partai Keadilan Sejahtera. (Kompas, Sampul Baru Partai Islam?) Walaupun PKS adalah partai Islam, tetapi partai ini memperjuangkan hal-hal yang bersifat universal. Dan Piagam Madinah, menempatkan setiap orang dan setiap agama pada posisi yang sama.

Lalu bagaimanakah implementasi Piagam Madinah ini oleh PKS? Manakala kita ingin menilai kesesuaian gerak langkah PKS dengan tema Piagam Madinah yang diusungnya, maka akan lebih bertanggung-jawab kalau kita juga bersikap adil. Yaitu ketika PKS mendeklarasikan bahwa mereka akan memperjuangkan Piagam Madinah, maka itu bukan berarti PKS sudah berhasil mengaplikasikan nilai-nilai Piagam Madinah di dalam masyarakat, tetapi semua itu memerlukan proses. Sehingga yang dapat kita nilai adalah indikator-indikator berupa kiprah PKS yang terlihat sebagai usaha menuju penerapan nilai-nilai tersebut.

Sebagai contoh usaha-usaha amal membantu masyarakat yang selama ini dilakukan oleh PKS tidak pernah melakukan diskriminasi terhadap para korbannya, apakah PKS, non-PKS, Islam, non-Islam, semua sama saja. Misalnya seperti diberitakan oleh Siaran Pers PKS (9/2/2004) dan Media Indonesia (2/1/2005), PKS dan BSMI telah mengirimkan bantuan tim medis dan obat-obatan ke Alor dan Nabire, dan menurut Tempo Interaktif (7/1/2005), PKS mengelola 150 ribu lebih pengungsi di Aceh, atau pendirian posko-posko banjir oleh PKS di DKI Jakarta, sebagaimana di beritakan di Era Moslem (19/1/2005). Semua itu tidak pandang bulu dalam memberikan bantuannya, apakah PKS, non-PKS, Islam, non-Islam, sama saja. Bukankah hal ini salah satu bentuk pengamalan nilai-nilai universal?

Demikian juga dalam kasus pemboman yang marak di mana-mana yang membawa-bawa nama Islam, sikap PKS jelas mengutuk kejadian tersebut. Sebagaimana diberitakan oleh Suara Merdeka (9/9/2004) PKS mengecam keras pemboman di jalan Rasuna Said. Begitu pula PKS mengutuk aksi pemboman di London pada 7 Juli 2005, sebagaimana dilansir oleh Indosiar. Dan juga seperti yang diberitakan di Detik.com (27/11/2005) bahwa PKS mengutuk aksi-aksi bom teroris di Indonesia. Ini pun merupakan indikator pengamalan nilai-nilai universal Piagam Madinah yang coba diangkat oleh PKS.

Kita juga bisa menyaksikan dalam kasus-kasus pembakaran dan perusakan rumah-rumah ibadah di beberapa daerah di Indoneisa, sikap PKS jelas menolak dan mengecam aksi-aksi tersebut. Misalnya pada kasus insiden Ketapang 22 Nopember 1998, dalam siaran persnya PKS menilai bahwa pelaku perusakan mushalla dan pembakaran gereja dan sarana sosial lainnya adalah melanggar hukum sekaligus melanggar ajaran agama Islam, sehingga para pelaku maupun aktor di belakang layar insiden tersebut perlu segera ditindak sesuai hukum yang berlaku. Karena memang di dalam ajaran Islam jelas bahwa perusakan rumah-rumah ibadah adalah dilarang bahkan di saat perang sekalipun.

Sehingga jelaslah bahwa nilai-nilai universal Piagam Madinah bukan hanya slogan kosong atau retorika belaka pagi PKS, tetapi benar-benar tema perjuangan yang akan terus diusung dan coba diterapkan oleh PKS di bumi pertiwi yang majemuk ini. Sebagai partai masa depan yang menjadi harapan, bukan hanya ummat Islam, melainkan seluruh rakyat Indonesia, PKS dituntut untuk dapat mengakomodasi keinginan dan kepentingan berbagai pihak dari berbagai agama, ras dan suku bangsa. Untuk itu PKS akan terus bekerja dan bekerja, terutama di dalam usaha-usaha amal membantu masyarakat yang telah identik dengan kegiatan PKS sejak sebelum menjadi partai. Sehingga bukan hanya siaran pers dan retorika politik di media massa yang menjadi prestasi PKS, melainkan kerja nyata yang dirasakan langsung manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia.

Berikut adalah terjemahan bahasa Indonesia dari teks asli Piagam Madinah yang saya kutip dari (Piagam Madinah dan Konsep Ummah oleh Juwairiyah Dahlan)

Piagam Madinah

Preambule: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah piagam dari Muhammad, Rasulullah SAW, di kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal) dari Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka.

Pasal 1: Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komunitas) manusia lain.

Pasal 2: Kaum Muhajirin (pendatang) dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 3: Banu 'Awf, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 4: Banu Sa'idah, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 5: Banu al-Hars, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 6: Banu Jusyam, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 7: Banu al-Najjar, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 8: Banu 'Amr Ibn 'Awf, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 9: Banu al-Nabit, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 10: Banu al-'Aws, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 11: Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang yang berat menanggung utang di antara mereka, tetapi membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diat.

Pasal 12: Seorang mukmin tidak dibolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya, tanpa persetujuan dari padanya.

Pasal 13: Orang-orang mukmin yang takwa harus menentang orang yang di antara mereka mencari atau menuntut sesuatu secara zalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka.

Pasal 14: Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran (membunuh) orang kafir. Tidak boleh pula orang mukmin membantu orang kafir untuk (membunuh) orang beriman.

Pasal 15: Jaminan Allah satu. Jaminan (perlindungan) diberikan oleh mereka yang dekat. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu, tidak tergantung pada golongan lain.

Pasal 16: Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang (olehnya).

Pasal 17: Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.

Pasal 18: Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu-membahu satu sama lain.

Pasal 19: Orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertakwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.

Pasal 20: Orang musyrik (Yatsrib) dilarang melindungi harta dan jiwa orang (musyrik) Quraisy, dan tidak boleh bercampur tangan melawan orang beriman.

Pasal 21: Barang siapa yang membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali si terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.

Pasal 22: Tidak dibenarkan bagi orang mukmin yang mengakui piagam ini, percaya pada Allah dan Hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi tempat kediaman kepadanya. Siapa yang memberi bantuan atau menyediakan tempat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dan kemurkaan Allah di hari kiamat, dan tidak diterima daripadanya penyesalan dan tebusan.

Pasal 23: Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah 'azza wa jalla dan (keputusan) Muhammad SAW.

Pasal 24: Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.

Pasal 25: Kaum Yahudi dari Bani 'Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.

Pasal 26: Kaum Yahudi Banu Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf.

Pasal 27: Kaum Yahudi Banu Hars diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf.

Pasal 28: Kaum Yahudi Banu Sa'idah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf.

Pasal 29: Kaum Yahudi Banu Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf.

Pasal 30: Kaum Yahudi Banu al-'Aws diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf.

Pasal 31: Kaum Yahudi Banu Sa'labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu 'Awf, kecuali orang zalim atau khianat. Hukumannya hanya menimpa diri dan keluarganya.

Pasal 32: Suku Jafnah dari Sa'labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Sa'labah).

Pasal 33: Banu Syutaybah (diperlakukan) sama seperti Yahudi Banu 'Awf. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu lain dari kejahatan (khianat).

Pasal 34: Sekutu-sekutu Sa'labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Sa'labah).

Pasal 35: Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi).

Pasal 36: Tidak seorang pun dibenarkan (untuk perang), kecuali seizin Muhammad SAW. Ia tidak boleh dihalangi (menuntut pembalasan) luka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia teraniaya. Sesungguhnya Allah sangat membenarkan (ketentuan) ini.

Pasal 37: Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya, dan bagi kaum muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan muslimin) bantu-membantu dalam menghadapi musuh Piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasihat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.

Pasal 38: Kamu Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.

Pasal 39: Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya "haram" (suci) bagi warga Piagam ini.

Pasal 40: Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.

Pasal 41: Tidak boleh jaminan diberikan, kecuali seizin ahlinya.

Pasal 42: Bila terjadi suatu peristiwa atau perselisihan di antara pendukung Piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah 'azza wa jalla, dan (keputusan) Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi Piagam ini.

Pasal 43: Sungguh tidak ada perlindungan bagi Quraisy (Mekkah) dan juga bagi pendukung mereka.

Pasal 44: Mereka (pendukung Piagam) bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib.

Pasal 45: Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksanakan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.

Pasal 46: Kaum yahudi al-'Aws, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung Piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung Piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan (pengkhianatan). Setiap orang bwertanggungjawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi Piagam ini.

Pasal 47: Sesungguhnya Piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan takwa. Dan Muhammad Rasulullah SAW.

Wassalamu'alaikum warohmatulloh wabarokatuh

PKSWatch Watch

10 Comments:

At 2:26 AM, Anonymous Anonymous said...

find_namagraph@yahoo.com

syukurlah tdk ad commentyang berseberangan disini. seandainya ada yg mempermasalahkan ttg hubungan dengan sejarah, maka dipermasalahkan pengetahuan siroh nabawi-nya

 
At 6:38 AM, Anonymous Anonymous said...

kayanya di Piagam Madinah tdk ada pasal yang membolehkan Umat Islam duduk dalam satu majelis dengan orang yang menolak Al Quran sebagai sumber hukum untuk membahas urusan umat Muslim.

Kalau ada yang bilang "ada pasal piagam Madinah apalagi ayat Quran yang membolehkannya " berarti dipermasalahkan analisis pengetahuan siroh nabawinya dan pengetahuan Al Qurannya
(Q.S. 4: 140).

 
At 6:54 AM, Anonymous Anonymous said...

Di Antara News, Presiden PKS menegaskan bahwa "PKS adalah Partai Nasionalis yang menjalankan konstitusi negara dan menaati aturan permainan yang telah ditetapkan".

Jadi bingung, jadi PKS itu Partai Islam atau Partai Nasionalis, atau Partai Islam Nasionalis.

Ternyata benar kata HTI kalo PKS itu pahamnya Ashabiyah. Setelah saya baca artikel2 tentang pendiri PKS, ternyata pendiri PKS memang anak dari salah satu pemimpin NII yang murtad (silahkan selidiki sendiri dari artikel2 di Internet).

Tapi NII masih lebih baik karena hukum yang berlaku adalah Islam dan sumber dari segala sumber hukumnya adalah Al Quran, tapi PKS mencampurkan yang haq dan yang bathil (Q.S. 2:42) padahal yang haq itu dari Allah, yaitu Quran (Q.S. 2:147)

 
At 9:51 PM, Anonymous Anonymous said...

Betapa malangnya Indonesia bila Piagam Madinah itu diterapkan di Indonesia. Sungguhkan Nasionalis? Banyak hal yang sungguh tidak nasionalis; hukum apakah yang mau dipakai? Hukum Islam atau hukum negara? "Kejahatan" seperti apa yang dimaksud? Kalau tidak pakai jilbab itu kejahatan, haruskah orang non-Islam diadili?
Mengertilah... Hiduplah dengan penuh pengertian...

 
At 10:43 PM, Anonymous Anonymous said...

eheheheh pendiri PKS itu HASAN AL BANNA lah ! tuh dimesir...gitu aja gak tau!

 
At 11:01 PM, Blogger SalmanAlFarisi2 said...

assalamu'alaikum akh anonymous yang mengatakan pendiri PKS itu "NII yang murtad", antum terlalu banyak tercekoki dengan bacaan2 yang tidak memiliki kekuatan kebenaran dan hujjah yang kuat, artikel-artikel yang anttum baca adalah bualan orang-orang yang membenci dakwah ini...

NII tidak menerapkan syariat Islam, kalau antum sudah pernah masuk kedalam NII amaka antum akan tahu hal yang sebenarnya...

semoga kita tidak menjadi orang yang berada diluar kotak, tapi sok tahu mengenai isi kotak tesebut...

 
At 1:14 PM, Anonymous sangkebenaran said...

Inilah contoh ajaran pedofilia Muhammad:

Dikisahkan Jabir bin 'Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.


A'isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.


Dikisahkan A'isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A'isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.


Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci? Seorang anak kecil Muhammad nodai dalam nama allah. Dalam ilmu psikologi moderen, yang dilakukan Muhammad disebut pedofilia, dan seorang yang melakukan pedofilia dapat dikenakan sanksi hukuman mati, karena telah merampas masa depan anak-anak, dan membuat anak-anak menderita trauma kejiwaan.

 
At 9:52 PM, Anonymous Anonymous said...

hahaha.. sangkebenaran tai kambing! lha wong lagi diskusi ttg piagam madinah dan aras perjuangan PKS kok malah nyodorin soal pernikahan Muhammad-Aisyah..

lha menempatkan diskusi yg benara sesederhana ini aja FAIL, gimana bs mengklaim sbg SANG Kebenaran?

 
At 9:53 PM, Anonymous Anonymous said...

eh liat juga tuh, gimana Bunda tuhan dinikahi yoseph, umur 12 taun Bo, lalu mengandung.. kagak jauh beda ama aisyah. bunda tuhan ente jadi korban tuhan pedofil juga dong? :D

 
At 10:52 AM, Anonymous Anonymous said...

http://pkswatch.blogspot.com/

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home